Review Film Ghost in the Shell: Surealis Menakjubkan yang Kekurangan Pesona Cerita

Ghost in the Shell merupakan film adaptasi dari anime berjudul sama yang disutradarai oleh Mamoru Oshii pada tahun 1995 yang mana diadaptasi dari manga berjudul sama karya Masamune Shirow pada tahun 1989.

Film ini disutradarai oleh Rupert Sanders, dan dibintangi oleh si cantik Scarlett Johansson, Pilou Asbæk, dan Takeshi Kitano.

No spoilers here.

StoryLine

Film ini mengenalkan dunia utopia yang mengimitasi kota Tokyo dengan lebih futuristik, semacam film Blade Runner (1982) yang mengambil kota futuristik Los Angeles, dan film ini menggunakan kota New Port City sebagai setting-nya. Dunia utopia tersebut memiliki kecanggihan teknologi yang dapat menempatkan otak manusia alias “Ghost” untuk dihubungkan dengan tubuh fisik sibernetik alias “Shell”. Hence, ghost in the shell.

Ghost in the Shell mengisahkan sang protagonis, Major (Scarlett Johansson), yang merupakan seorang agen khusus pemerintah bernama Section 9 yang mana sebuah grup taktikal bertujuan memberantas cyber-terrorism. Kasus terbarunya membawanya pada hacker anonim yang secara ilegal menyelusup sistem keamanan para android dan menggunakan mereka untuk membunuh para ilmuwan yang bekerja untuk sebuah perusahaan produsen teknologi sibernetik bernama Handa. Bersama partnernya Batou (Pilou Asbæk) dan mentornya Aramaki (Takeshi Kitano), Major berusaha untuk melacak hacker tersebut yang dikenal dengan nama Kuze (Michael Pitt), disaat bersamaan dia juga berusaha untuk mengetahui penyebab penglihatan aneh (glitches in vision) yang mana berhubungan dengan masa lalunya.

Baca Juga:  Review Film La La Land: Bagaikan Terbuai Mimpi Indah

Secara filosofi dan konsep, Ghost in the Shell berhasil menjual dan meyakinkan penonton bahwa tidak ada rugi membeli tiket untuk menonton film ini. . . sampai dua babak. Pada babak awal dan kedua, penonton dibawa ke dalam dunia utopia dan difokuskan pada karakter Major karena memang poin cerita ada di situ.

Namun, ketika masuk babak ketiga (third act), film ini nampaknya kehilangan atraksi yang membuat penonton terkesima. Babak ketiga kehilangan kejelasan dan kemampuan untuk melanjutkan pesona cerita dari dua babak sebelumnya. Kekurangan resolusi cerita yang jelas untuk penonton mungkin membuat sedikit kekecewaan pada penonton.

Sutradara Rupert Sanders terlihat tahu bagaimana membangun film ini untuk menjadi sebuah daya tarik yang dapat mengangkat ketertarikan penonton, dalam beberapa rangkaian roller-coster adegan aksi dan drama yang pas, tapi lumayan lambat masih dirasa bagus hingga pertengahan film.

Secara psikologi, untuk penyelesaian cerita film dirasa kurang, namun begitu penonton dimanjakan dengan plot tambahan mengenai latar belakang Major sebelum dia memiliki tubuh cyborg, yang tak diduga, memiliki nilai kemanusiaan dan empati yang cukup menarik dan bagus. Tak diduga karena di anime dan manga tidak dijelaskan secara eksplisit, sehingga cukup menyegarkan mata dan pikiran ketika penonton, baik fans sejati dan bukan, akan merasakan ketertarikan terhadap karakter Major secara cukup mendalam.

Baca Juga:  Review Film Wonder Woman: Film Perdana yang Solid dan Memikat

Characters

Keseluruhan, semua karakter dirasa pas dan cukup bagus. Karakter Major dan Batou yang memiliki daya tarik kuat dalam film ini dan para aktor berhasil membawakan karakter tersebut dengan bagus dari sumbernya (anime dan manga) ke layar lebar.

Scarlett Johansson bener-bener bagus untuk memainkan karakter Major, walaupun secara dasar aktor mana saja bisa memainkan Major, mungkin daya tarik Johansson sendirilah yang berhasil membuat penonton takjub.

Sayang sekali, karakter antagonis Kuze menjadi agak hambar dan biasa saja untuk menjadi penjahat. Terlalu cliche, tidak memiliki kedalaman karakter yang penting, dan tidak begitu menonjol untuk bisa dibilang sebagai “penjahat”.

Soal masalah isu white-washing, menurut penulis itu cukup bodoh, karena aktor mana saja bisa memainkan karakter Major. Dikarenakan juga, naskah dan pengarahan sutradara lah yang menjadi pacuan untuk bagus atau tidaknya film. Kita hanya bisa menilai finishing product dari film, bukan ras aktor mana yang harus memainkan karakter utama. Just deal with it.

Cinematography & Film Scores

Freaking beautiful and outstanding.

Penonton bener-bener disuguhkan dengan visual storytelling yang asli menakjubkan, membuat kamu menahan kencing sampai film selesai, dan keindahan medium shots setiap aksi konflik yang berhasil “memaku” penonton untuk tetap duduk. Koreografi perkelahian juga nampak realistis, cukup menegangkan, dan menarik. Permainan editing juga bermain dengan bagus, walaupun beberapa cliche dari pengambaran Hollywood juga dapat terlihat.

Baca Juga:  Review Film Life: Film Luar Angkasa Menakutkan Tanpa Karakter

Film ini juga berhasil mempertahankan keindahan visual dari anime-nya yang menginspirasi film dengan bagus sekali. Jadi, secara visual Ghost in the Shell sudah terjamin bagus lah.

Film scores juga asli membuat ear-gasm banget, walaupun tidak sepenuhnya menggunakan soundtrack orisinil dari anime-nya, film ini sudah berhasil memberikan film scores yang surealis techno-futuristic membuat telinga penonton terasa menyenangkan.


Rating

Setelah menonton dan membayangi Scarlett Johansson sebagai Major (hmm) untuk beberapa jam, maka penulis memberi nilai:

8.0 / 10

Asli menarik, jadi tonton lah.

Sumber