Review Film Wonder Woman: Film Perdana yang Solid dan Memikat

Wonder Woman merupakan ikon feminisme penting dalam sejarah dan budaya yang dimulai dari sebuah buku komik. Dan semenjak Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), penulis menunggu dengan (gak) sabar untuk film ini, dan lemme tell you that this movie is really good.

StoryLine

WonderWoman2

Wonder Woman berkisah tentang Princess Diana (Gal Gadot) dari Themyscira, sebuah pulau di mana prajurit Amazon bertempat tinggal, yang memiliki keinginan untuk menyelamatkan dunia setelah bertemu dengan seorang pilot, Steve Trevor (Chris Pine), yang jatuh di Themyscira.

Film ini juga mengisahkan latar belakang Diana, ketika dia masih kecil, berlatih menjadi seorang prajurit dengan Antiope (Robin Wright) walaupun ibunya, Ratu Themyscira Hippolyta (Connie Nielsen), merasa enggan Diana berlatih sebagai prajurit.

Kemudian, Diana dan Steve menuju ke dunia manusia di mana Perang Dunia Pertama sedang berkecamuk. Diana dengan ideologi murninya berusaha untuk mengerti dan membantu dunia manusia dari perang yang disebabkan oleh Ares, sang dewa perang mitologi Yunani. Film ini membawakan karakter Diana untuk mendalami dunia manusia yang tampak asing di matanya dan pikirannya, sehingga mengembangkan karakter Diana secara perlahan dan tepat dalam porsi penceritaan.

Sutradara Patti Jenkins dan penulis naskah Allan Heinberg mengerti betul bagaimana memperkenalkan cerita Wonder Woman ke layar lebar dengan cerita yang fokus, mendalam di perjalanan pengembangan karakter, dan emosional dalam porsi yang cukup bagus. Beginilah seharusnya feminisme digambarkan dalam film *melirik film Beauty and The Beast* dengan cerita yang bener-bener bagus di mana tidak menggambarkan “man vs woman“, tapi “man AND woman“.

Baca Juga:  Inilah 5 Tunggangan Paling Memorable dari Franchise Fast & Furious

Pentahapan adegan ditampilkan dengan bagus sekali, tidak terburu-buru, tampak pas sekali. Sangat mencolok dan cerdas sekali saat film ini memilih Non-Linear Storytelling (cerita dengan plot maju dan mundur bertumpukan) sebagai teknik pembawaan cerita.

Untuk babak pertama, cukup bagus untuk menunjukkan dunia Diana di Themyscira dan bagaimana pertemuan dengan Steve Trevor membawa pengaruh ke pemikiran dan keputusan Diana untuk menyelamatkan dunia dari perang.

Babak kedua memiliki kekuatan cerita yang bagus sekali untuk menunjukkan bagaimana perkembangan ideologi dan tindakan Diana terhadap dunia manusia, dan Steve Trevor memiliki penekanan yang bagus dan tepat untuk membentuk pemikiran Diana di babak ketiga. Aksi besar yang penting sekali dengan Ares di babak ketiga dirasa cukup dan pas, tidak seperti BvS Dawn of Justice yang memperkenalkan Doomsday dengan terasa dipaksa dan ketebak sekali, serta di babak ketiga juga mengisahkan adegan Diana dan Steve yang secara terpisah karena mereka memiliki misi yang berbeda untuk tujuan yang sama.

Baca Juga:  Review Film La La Land: Bagaikan Terbuai Mimpi Indah

Characters

WonderWoman4

Untuk segi akting dari semua karakter di film ini tidak ada yang mengecewakan.

Gal Gadot dan Chris Pine berhasil menampilkan karakter mereka dengan sangat baik sehingga hubungan Diana dan Steve terkesan natural, pas, dan emosional. Penulis naskah sangat bagus untuk memberikan kedua karakter tersebut momen-momen mendalam sehingga menampilkan keduanya lebih manusiawi.

Robin Wright sebagai Antiope sangat bagus sekali, seperti aktingnya di tv serial House of Cards sebagai Claire Underwood.

Untuk karakter pendukung lainnya memiliki kedalaman karakter yang kurang, walaupun sudah ditampilkan lewat dialog maupun adegan-adegan kecil untuk mereka. Adegan tersebut hanya memberikan karakter tersebut bobot penting hanya di babak kedua, di babak ketiga terasa seperti mereka melambatkan jalannya plot.

Seperti film superhero kebanyakan, mereka selalu memiliki masalah dalam kedalaman karakter antagonis alias the supervillain. Dalam film ini, juga memiliki masalah tersebut. Karakter Doctor “Poison” Maru dan Jenderal Ludendorff ditampilkan dengan kedalaman two-dimensional character yang tidak memiliki latar belakang dan motif yang jelas, hanya ditampilkan ambisi mereka yang kuat dalam memenangkan perang.

Cinematography & Film Scores

WonderWoman

Okay, DCEU (DC Extended Universe) seperti berusaha mengatakan bahwa mereka mendengar keluhan penonton atas sinematografi film Man of Steel dan BvS yang terkesan kelam, realistis-pesimis, dan desaturasi yang kuat. Sehingga film Wonder Woman memperkenalkan warna yang lebih kuat, tidak tersaturasi berlebihan sehingga penonton akan “muntah” di mata, cukup untuk memperkenalkan sinematografi yang lebih bagus dari dua film DCEU sebelumnya.

Baca Juga:  Sekuel Wonder Woman Akhirnya Diresmikan Warner Bros.

Dan juga untuk pertama kali, keluar dari pengaruh Zack Snyder yang menggunakan mid-close wide shot dan close up shot yang merajai film DCEU sebelumnya. Lebih banyak menggunakan wide shot untuk kebanyakan adegan, close up shot untuk adegan intens dan emosional, dan POV- long tracking shot yang asli keren untuk di babak kedua dan ketiga.

Hampir ketinggalan, animasi cerita mitologi Yunani tentang Zeus dan Ares yang bagus sekali, harus kasih jempol banyak untuk animator-nya.

Untuk film scores, asli keren dan pas. Untuk beberapa adegan sepertinya film ini mengerti kapan pemakaian musik dan kapan untuk tidak menggunakan musik. Dan siapa yang tidak suka musik tema Wonder Woman yang asli bikin ear-gasm semenjak diperkenalkan pertama kali di film BvS Dawn of Justice.

Rating

Setelah menonton dengan rasa penasaran yang tinggi, maka penulis memberi nilai:

9.0 / 10


Artikel ini pertama kali dipublikasikan di blog penulis